Resep Healthier Version of French Toast untuk Menu Sahur

Dulu waktu kecil saya malas banget bangun sahur, sahur yang penting asal melek seadanya. Sering nih saking malesnya bangun, saya beneran nggak bangun terus disuapin nenek dengan roti atau telur rebus. Susah banget untuk bangun sahur dulu itu. Ketika bertambah dewasa, saya makin sadar pentingnya makan sahur. Sahur sama artinya dengan mempersiapkan nutrisi kita untuk seharian berpuasa. Tanpa sahur, puasa bakalan lemas nggak berenergi dan efeknya juga akan pengaruh ke kualitas puasa kita.

Bulan Ramadhan yang seharusnya semakin rajin dengan ibadah wajib dan sunnah, bekerja dan melakukan hal-hal yang bermanfaat demi maksimalnya kualitas ibadah puasa jadinya justru terisi dengan malas-malasan dan pengin tidur seharian. Sayang banget kan bulan dimana pahala ibadah kita dinilai lebih malah terisi dengan acara malas-malasan yang nggak berkualitas.

Itulah pentingnya sahur, untuk mempersiapkan tubuh kita dengan puasa yang berkualitas. Jadi sebisa mungkin jangan ke-skip.

Konsep sahur juga beberapa kali mengalami perubahan bagi saya, dulu waktu remaja, saya jenis orang yang berbuka secukupnya saja tapi sahur kudu banget banyak karena kan untuk cadangan energi aktivitas seharian. Dalam beberapa hal, memang ada benarnya sih kecuali perut jadi begah dan berasa berat setelahnya.

Continue Reading

Review: Cheesecake Prinzasskyr, No-Bake Cheesecake dengan Biscuit Crumble

Slow weekend is my simple happiness.

Meskipun lebih sering cuma jadi impian ketimbang kenyataan *haha. Bisa dibayangin gimana udah seneng banget kalau weekend nggak usah mikirin deadline project dan mikirin hal-hal super penting yang sehari-hari sudah membajak sebagian besar isi otak contohnya urusan rumah yang nggak pernah kelar, selalu ada aja to do list-nya dari hari ke hari.

Makanya bisa baca-baca surat dari teman, dekor jurnal, minum kopi susu ditemenin cheesecake tanpa kepikiran apa-apa udah seneng.

Dan iya saya bisa hepi karena hal yang seremeh itu.

Continue Reading

Review: Nanny’s Pavillon Tunjungan Plaza, Resto dengan Interior dan Dekorasi Bertema Pasar

Sudah pernah makan di Nanny’s Pavillon?

Yah teman-teman yang berdomisili di Jakarta dan sekitarnya mungkin sudah cukup familiar dengan resto yang satu ini. Tapi di Surabaya, sejauh yang saya tahu Nanny’s Pavillon cuma ada di satu tempat aja. Tepatnya di Mall Tunjungan Plaza. Mungkin nggak sefamous seperti di Jakarta sih, yang kadang sampek harus ngantri-ngantri dan susah dapat tempat duduk kalau mau makan disini.

Pertama kali saya nyobain makan di Nanny’s Pavillon ini di salah satu cabangnya yang berada di dalam mall Kota Kasablanka – Jakarta Selatan. Awal mampir karena tertarik dengan interior dalam resto yang nampak bertema dan instagram-able banget itu. Lucu banget dan pengunjungnya juga ramai, pertanda kemungkinan makanan yang dijual enak. Saya dan teman yang mau makan bareng di Nanny’s awalnya bener-bener berniat cuma nyobain tanpa baca-baca review dan browsing dulu. Eh dari situ setelah nyoba makan sekali ternyata makanannya enak banget. Jadilah saya jatuh hati sama menunya Nanny’s ini, si adek yang pernah saya ajakin makan disitu juga sama senengnya.

Kalau Nanny’s Pavillon di mall Kota Kasablanka itu temanya playroom (atau playground gitu *lupa*), nah Nanny’s yang di Tunjungan Plaza ini temanya market. Sesuai tema, disini ada kios-kios berjajar dan berhadapan di dekat kursi-kursi dan meja untuk makan customer resto ini. Kios-kios disekeliling meja makan juga lengkap dengan barang dagangan berupa sayuran, buah, roti dan papan harga.

Continue Reading

Review: Warung Ipang, Jagonya Iga Penyet dengan Sambal Mangga Segar

Dari minggu lalu kepikiran buat makan iga penyet, tapi di rumah lagi ngga ada iga dan saya lagi males bikinnya hehe, habis paling makan sendiri doang juga. Iga penyet adalah salah satu comfort food saya, meskipun lagi nggak doyan makan jadinya tetep makan dengan semangat kalau ada si iga penyet ini :p (err oke entah karena comfort food atau karena doyan memang beda tipis).

Sebenarnya menu favorit saya kalau ke resto iga penyet sejenis ya iga + otot penyet.

Continue Reading

Review: Sate Taichan Nyot-nyot, Porsi Memuaskan Harga Menyenangkan

menatap mangsa dari kejauhan be like…

Dari awal makanan ini ngehits, saya memang suka sama sate taichan. Suka tastenya yang ringan dipadu sambelnya yang nggak bold  di lidah bikin doyan. Banyak juga teman yang sampai niat bikin sendiri sate taichan atau ayam taichan yang dimasak dan dihidangkan seperti sate taichan, rasa yang identik hanya tidak memakai tusukan.

Tapi jajanan saya memang jarang untuk makanan berat atau lauk-lauk, lebih sering kue-kue. Makanan berat dan lauk lebih sering masak sendiri di rumah karena bisa disesuaikan sama selera yang masak hehe :p

Sebaliknya adik saya sebagai mahasiswa dan pekerja yang ngekos, sering banget makan diluar bareng teman-temannya. Karena pernah nyoba dan suka, akhirnya dia ngajakin saya ke salah satu cabang Sate Taichan Nyot-nyot di daerah G-Walk Ciputra.

Continue Reading

Review: Ngopi di Amstirdam Coffee & Roastery Malang, Kopi Serius Harga Bercanda

Udah agak lama saya baca postingnya Meriska mengenai Amstirdam ini. Tempat giling kopi yang juga bisa banget didatangin untuk ngopi-ngopi dan nongkrong dengan rasa kopi yang enak dan harga yang ramah banget di kantong. Pas lagi ngobrol sama Meriska juga dia kembali mempersuasi saya untuk nyobain kopi disini yang menurut dia jenis kopi serius bukan kopi yang sekadar famous dan lebih mengutamakan faktor cozy coffee shop-nya sebagai daya jual utama dibanding kopinya sendiri.

Sebagai penggemar kopi sejak kecil karena turunan para wanita di keluarga saya yang kebanyakan suka minum kopi, pastinya saya penasaran dan pengin mampir ke tempat yang satu ini. Sayangnya saya sudah jarang banget ke Malang karena si adek sudah tidak kuliah lagi disana. Jadi rasa penasarannya lama banget nggak juga kesampean. 

Continue Reading

Review: Baso Mas Tato, Bandung – Spicy yet Tasty!

Sebenarnya sudah cukup lama saya kenal Baso Mas Tato dan penasaran pengin mampir ke kedai-nya di Bandung. Kenapa saya penasaran banget sama kedai yang satu ini, padahal sebenarnya nggak hype banget di sosial media seperti kedai baso lain di Bandung?

Awalnya kenal kedai ini gara-gara ada acara meet up dimana seorang teman bawa oleh-oleh iced green tea langsung dari Bandung, nah rasanya segar banget, nggak kalah pokoknya sama green tea di cafe-cafe mahal. Ternyata green tea itu di buat sendiri dan dijual di kedai milik salah satu anggota keluarganya di Bandung, namanya Baso Mas Tato. Kalau penasaran dengan rasa basonya kami bisa pesan dan akan dikirim dalam kemasan vacuum melalui ekspedisi express sampai ke alamat kami. Dan tentu saja yang bisa dikirim cuma bola basonya aja, tidak bersama dengan pelengkap dan bumbu lainnya. Karena ketagihan sama green tea-nya saya juga mau dikirimin.

Sayangnya ternyata green tea tidak mudah dikirimkan dan belum tahu bagaimana cara pack pengirimannya sementara racikan green tea buatan sendiri itu selalu fresh dan kalau harus dikirim kuatir basi. Jadi nggak bisa kesampaian deh minum green tea-nya lagi.

Continue Reading

Review: Ketoprak Jakarta Mang Ucup di Surabaya

Ketoprak bukan jenis makanan yang umum di Surabaya, nggak heran kalau makanan yang kerap kali jadi menu makan malam saat perut lapar tapi malas makan yang berat-berat selama masih tinggal di Jakarta ini tiba-tiba saya kangenin.

Surabaya memiliki tahu campur dan mengenal gado-gado, tapi nama ketoprak sebagai nama makanan termasuk masih asing terdengar. Kata ketoprak lebih related dengan pertunjukan seni peran tradisional yang dikenal masyarakat Surabaya dan sekitarnya.

Awal-awal tinggal di Jakarta, menu makan malam saya berkisar antara kwetiau goreng, nasi goreng, ketoprak dan soto Padang karena letaknya yang searah dengan jalan pulang kantor saya. Dalam masa 10 bulan ketika saya harus tinggal di Surabaya karena urusan pekerjaan setelahnya, saya menemukan beberapa tempat yang menjual ketoprak dengan rasa yang enak dan affordable price.

Continue Reading

Review: Kopi Susu Tetangga by Kopi Tuku

Karena menyukai kopi, saya suka banget nyobain tempat minum kopi seperti cafe atau kedai kopi yang menyajikan kopi enak dengan atmosfer menyenangkan. Atmosfer menyenangkan itu berarti orang-orang yang datang kesana memang berniat menikmati kopi dan interaksi sosial yang selayaknya dan nggak merokok dalam ruangan sesukanya.

Iya saya paling males sama orang yang ngerokok dalam ruangan.  Di Jakarta, larangan merokok di ruangan tertutup public area ini diatur dalam PERDA, terkait denda dan hukumannya juga ada dan cukup serius lho. Perusahaan yang memiliki standar dan sertifikasi safety juga beresiko tinggi jika diketahui pekerjanya melanggar aturan ini. Untuk daerah lain saya kurang tahu apakah PERDA serupa diberlakukan atau tidak.

Intinya karena ketidaksukaan itu, jadilah saya orang yang cuma bisa minum kopi di tempat eksklusif, seperti cafe-cafe yang ber-AC dan di… rumah 😀 yhaa rumah kan eksklusif ya nggak sembarang orang bisa keluar masuk, anggaplah begitu 🙂 Padahal berdasarkan info banyak loh tempat ngopi enak – kopinya yang enak maksudnya. Kalau untuk sekelas cafe, saya masih paling setiap sama kedai kopi dengan awalan S itu. Bukan karena prestise atau apa, yang harganya mirip-mirip bahkan lebih mahal banyak kok (ala iklan obat nyamuk). Tapi karena memang selain cafenya memenuhi poin-poin yang wajib terpenuhi dari sebuah tempat ngopi bagi saya, kopinya untuk sekelas dan harga segitu menurut saya masih paling enak dan worth it.

Continue Reading