Review: Baso Mas Tato, Bandung – Spicy yet Tasty!

Sebenarnya sudah cukup lama saya kenal Baso Mas Tato dan penasaran pengin mampir ke kedai-nya di Bandung. Kenapa saya penasaran banget sama kedai yang satu ini, padahal sebenarnya nggak hype banget di sosial media seperti kedai baso lain di Bandung?

Awalnya kenal kedai ini gara-gara ada acara meet up dimana seorang teman bawa oleh-oleh iced green tea langsung dari Bandung, nah rasanya segar banget, nggak kalah pokoknya sama green tea di cafe-cafe mahal. Ternyata green tea itu di buat sendiri dan dijual di kedai milik salah satu anggota keluarganya di Bandung, namanya Baso Mas Tato. Kalau penasaran dengan rasa basonya kami bisa pesan dan akan dikirim dalam kemasan vacuum melalui ekspedisi express sampai ke alamat kami. Dan tentu saja yang bisa dikirim cuma bola basonya aja, tidak bersama dengan pelengkap dan bumbu lainnya. Karena ketagihan sama green tea-nya saya juga mau dikirimin.

Sayangnya ternyata green tea tidak mudah dikirimkan dan belum tahu bagaimana cara pack pengirimannya sementara racikan green tea buatan sendiri itu selalu fresh dan kalau harus dikirim kuatir basi. Jadi nggak bisa kesampaian deh minum green tea-nya lagi.

Continue Reading

Review: Ketoprak Jakarta Mang Ucup di Surabaya

Ketoprak bukan jenis makanan yang umum di Surabaya, nggak heran kalau makanan yang kerap kali jadi menu makan malam saat perut lapar tapi malas makan yang berat-berat selama masih tinggal di Jakarta ini tiba-tiba saya kangenin.

Surabaya memiliki tahu campur dan mengenal gado-gado, tapi nama ketoprak sebagai nama makanan termasuk masih asing terdengar. Kata ketoprak lebih related dengan pertunjukan seni peran tradisional yang dikenal masyarakat Surabaya dan sekitarnya.

Awal-awal tinggal di Jakarta, menu makan malam saya berkisar antara kwetiau goreng, nasi goreng, ketoprak dan soto Padang karena letaknya yang searah dengan jalan pulang kantor saya. Dalam masa 10 bulan ketika saya harus tinggal di Surabaya karena urusan pekerjaan setelahnya, saya menemukan beberapa tempat yang menjual ketoprak dengan rasa yang enak dan affordable price.

Continue Reading

Review: Kopi Susu Tetangga by Kopi Tuku

Karena menyukai kopi, saya suka banget nyobain tempat minum kopi seperti cafe atau kedai kopi yang menyajikan kopi enak dengan atmosfer menyenangkan. Atmosfer menyenangkan itu berarti orang-orang yang datang kesana memang berniat menikmati kopi dan interaksi sosial yang selayaknya dan nggak merokok dalam ruangan sesukanya.

Iya saya paling males sama orang yang ngerokok dalam ruangan.  Di Jakarta, larangan merokok di ruangan tertutup public area ini diatur dalam PERDA, terkait denda dan hukumannya juga ada dan cukup serius lho. Perusahaan yang memiliki standar dan sertifikasi safety juga beresiko tinggi jika diketahui pekerjanya melanggar aturan ini. Untuk daerah lain saya kurang tahu apakah PERDA serupa diberlakukan atau tidak.

Intinya karena ketidaksukaan itu, jadilah saya orang yang cuma bisa minum kopi di tempat eksklusif, seperti cafe-cafe yang ber-AC dan di… rumah 😀 yhaa rumah kan eksklusif ya nggak sembarang orang bisa keluar masuk, anggaplah begitu 🙂 Padahal berdasarkan info banyak loh tempat ngopi enak – kopinya yang enak maksudnya. Kalau untuk sekelas cafe, saya masih paling setiap sama kedai kopi dengan awalan S itu. Bukan karena prestise atau apa, yang harganya mirip-mirip bahkan lebih mahal banyak kok (ala iklan obat nyamuk). Tapi karena memang selain cafenya memenuhi poin-poin yang wajib terpenuhi dari sebuah tempat ngopi bagi saya, kopinya untuk sekelas dan harga segitu menurut saya masih paling enak dan worth it.

Continue Reading

Review: Ayam Betutu Pak Man, Masakan Khas Bali dengan Sertifikasi Halal

Sebenarnya ini bukan pertama kalinya saya ke Bali, pertama ke Bali sekitar SMP kelas 3 setelah kelulusan gitu. Dulu nggak ngerasa yang gimana-gimana sih. Begitu kali ini ke Bali bener-bener tanpa bantuan tour guide, arranging sendiri kita mau pergi kemana aja, mulai jam berapa dan pulang jam berapa. Saya baru nyadar kalau rasanya banyak hal yang berubah. Meskipun nggak berubah-berubah banget juga, sayanya aja yang ngerasa bedanya perjalanan di Bali dengan rombongan wisata dan tour guide dengan perjalanan mandiri bareng suami dan teman-temannya.

Dulu saya ngerasa nggak pernah kesulitan untuk sholat, waktunya sholat ya sholat aja, paling cuma ada alokasi waktunya. Dulu saya juga nggak ngerasa susah soal makanan, pagi makan di kompleks penginapan yang full book rombongan saya terdiri dari sekian banyak bis dan mayoritas muslim. Siang, sudah ada makanan kotakan dengan menu rumahan dan snack yang dibagikan. Laper disela waktu, saya cukup beli pop mie yang dijual pedagang keliling atau kaki lima di sekitar tempat wisata. Makan malam all you can eat di penginapan lagi.

Sekarang, nggak usah muluk-muluk cari masjid atau musholla. Bahkan ruang yang proper untuk sholat aja nemunya susah kebangetan. Saya juga nggak bisa makan nyaris semua menu yang hotel sediakan untuk sarapan karena mereka menjual menu-menu babi di room service dan campuran omelet saat sarapan, sementara saya nggak ngerasa cukup aman untuk makan apapun meskipun makanan biasa karena kurang yakin kalau bagian dapur akan merasa perlu memisahkan peralatan masaknya demi customer. Tiap jalan-jalan perut jadi ngerut nggak jelas karena cuma bisa makan sereal sama buah aja 🙁

Continue Reading

Review: Acine, Tepung Berbumbu Tanpa Pengawet dan MSG

Jujur aja, saya seneng makan enak dan seneng masak makanan enak di dapur. Nggak jarang juga coba-cobain resep baru. Dan menurut saya takaran makanan yang sesuai resep atau dengan modifikasi selera kita sendiri, jika berhasil rasanya bakalan enak banget karena nggak pelit bumbu dan berasa di lidah. Saya nggak terlalu suka pakai bumbu-bumbu instan selama nggak dalam situasi khusus yang menyebabkan saya lebih baik menggunakan bumbu instan.

Seperti misalnya pas lagi kecapekan, sakit, sementara toh dapur harus ada makanan yang siap santap karena yang diurusin nggak cuma perut saya seorang. Ya inilah bedanya masa single dan ketika sudah jadi istri orang. Kalau lagi males dan ngurusin perut sendiri, saya mendingan cuma nyeplok telor yang dimakan pake nasi anget dan sambel botol aja yang penting perut keisi. Cuma kalau hal yang sama saya berlakukan sekarang kan ya kesian suami yang pulang-pulang cuma nemu lauk ngasal asal ada 😀

Alasan saya nggak gitu suka pakai bumbu instan karena rasanya kurang nendang sih menurut saya, bumbunya kurang terasa. Untuk tepung bumbu juga gitu, kurang kerasa berempahnya dan kadang enaknya cuma kalau pas baru digoreng dan masih anget doang. Padahal suami suka banget bumbu gorengan yang saya olah sendiri karena nggak pelit bumbu dan spicy.

Continue Reading

Warung Leko Malang Sudah Tutup

menu favorit saya di Warung Leko: iga+otot penyet

Makanan warung Leko sudah lama menjadi favorit saya. Sambelnya yang pedes enak dan kerasa bumbunya, iga goreng yang lembut dan otot yang gurih. Pertama kali makan di Warung Leko ya pas di Malang, waktu jengukin adek saya yang kuliah di Malang dan habis itu langsung suka. Menu favorit saya ya iga + otot penyet dengan sambel super pedas ditemani nasi putih anget dengan porsi banyak.

Status saya yang perantau di kota besar membuat Warung Leko mudah saja ditemukan dimana-mana, bahkan di mall sekalipun. Memang kalau kangen makanannya tinggal beli aja dimana-mana ada kok, tapi yang paling juara menurut saya pribadi ya yang di Malang itu.

Beberapa kali beli menu yang sama di Warung Leko Jakarta dan Surabaya tapi dapetnya nggak sesuai ekspektasi saya. Mulai dari bentuk otot yang bulet-bulet kecil gak jelas dan dikit banget, sambel yang dikit, nasi yang untuk ukuran cewek diet aja kurang dan harganya mayan mahal kalau nambah lagi.

Continue Reading

Review: Hot Star Mozzarella Large Fried Chicken, Rindu Comfort Food di Perantauan

Hotstar large fried chicken always being one of my comfort food. Sejak kapan ya nggak tahu deh… Kalau nggak salah ingat sejak setahun terakhir di Jakarta. Pertama kali beli di Mall Kelapa Gading dan langsung suka sama renyah tepungnya dan juicy daging ayamnya. Porsinya juga puas banget, meskipun saya nggak pernah bisa ngehabisin ayamnya langsung dalam sekali makan karena ya porsinya gede, banyak.

Sejak ada jasa ojek online untuk delivery makanan, Hotstar adalah makanan yang sering banget saya order – biasanya bareng Sharetea dari mall terdekat kalau pas hari libur sementara saya laper dan mager banget kemana-mana.

Tapi kalau saya lagi terlalu malas untuk berdiam di kamar doang, I’d prefer to eat by dine-in. Saya pergi ke mall terdekat sekalian nonton di bioskop dan mojok lama di toko buku.

Kenapa saya bisa dengan nyamannya pergi sendirian?

Continue Reading

Review: Jing Si Books and Cafe, Bagi yang Butuh Ketenangan Maksimal

Setelah air putih dingin, I love bitter coffee more than any other drink.

Nggak tahu ya kerasa refreshing aja minum kopi itu, apalagi kalau lagi mentok dan inspirasi buntu. Jadinya lebih nyegerin, dan paling penting berasa meningkatkan fokus. Saya butuh kopi pas lagi gambar, dan terutama saya juga butuh kopi pas lagi pengin nulis sesuatu tapi nggak tahu mau dimulai darimana dulu.

Meskipun sama-sama suka kopi, selera orang soal kopi juga macem-macem. Ada yang suka manis, creamy, nah kalau saya suka sih susu creamy asal nggak manis dan rasa kopinya tetep kuat aja. Pernah dibikinin kopi sama sahabat saya dan akhirnya nggak ketelan soalnya kopinya maniiss banget, jadi kami sama-sama suka kopi tapi beda selera soal rasa kopi. Bagi saya, kopi nggak kerasa kopi kalau rasa khasnya – yang ada pahit-pahit gitu malah ketutup manisnya gula atau gurihnya susu/creamer.

Kalau kamu sukanya rasa kopi yang kayak gimana?

Berhubung suka kopi udah sejak lama banget, saya minum kopi murni karena suka. Ya suka aromanya, suka rasanya pula. Saya baru tahu kira-kira dua bulan lalu lah kalau kopi hijau alias green coffee berguna banget buat diet. Secara pribadi sih saya belum pernah cicipin ya, jadi belum tahu. Karena harga green coffee ini lumayan mahal, terus berat perkemasannya juga lumayan gede, jadi kalau mau beli suka kuatir nggak doyan dan nggak habis. Sayang gitu kalau mubazir.

Continue Reading

Review: Warunk Upnormal Surabaya, Saat Mau Nongkrong Kudu Berebut Antrian

Masa-masa akhir saya tinggal di Jakarta tuh lagi hits banget Warunk Upnormal. Pengunjungnya penuh terus, padahal menunya bisa dibilang biasa aja sih mirip warung kopi pinggir jalan yang isinya indomie, aneka minuman, roti bakar, pisang bakar dan sebangsanya.

Tapi gimana ya, seperti kebanyakan orang saya juga penasaran seberapa oke tempat ini sampai orang rela banget ngantri panjang demi bisa makan dan nongkrong di tempat ini. Kesempatan datang juga ketika si adek melanjutkan kuliah di kota tempat saya tinggal dan kosnya nggak jauh dari Warunk Upnormal Surabaya.

Penasaran, saya minta ditemenin kesini sama dia. Dianya rada ogah karena menurut dia overprice banget untuk ukuran indomie-indomie an. Setelah saya bujuk-bujuk baru deh mau.

Begitu masuk, eh bener lho rame banget sampai orang ngantri-ngantri. Kalau mau janjian sampai harus ada yang dateng duluan gitu buat ngetag tempat. Rame banget orang nongkrong sambil ngobrol-ngobrol dan main game kayak ular tangga dan entah apa bareng teman-temannya. Kebanyakan sih datang rame-rame, jadi nggak sulit buat kami dapet tempat yang bisa buat berdua doang.

Continue Reading

Review: Many Pany Pancake di Aiola Eatery

Makan di Aiola Canteen itu nyenengin ya, rame terus dan jajanannya banyak banget pilihan. Mulai dari jajanan lokal sampai jajanan ngehits kekinian. Mau makan berat, banyak pilihan menu nasi, mie, lontong, bubur tinggal pilih pokoknya. Nah kalau mau ngemil-ngemil jajanan alias makan yang nggak berat sambil ngobrol dan nongkrong bareng teman-teman juga asli bisa banget. Soalnya jajanan dan dessertnya juga asli deh bikin kalap dan bingung mau pilih yang mana. Macem-macem jajanan tradisional ada, yang dari luar juga tinggal pilih dan bayar.

Jadi si adek yang lagi pengen makan pancake enak tapi nggak mahal ngajakin saya ke Aiola karena stand Many Pany-nya. Kata dia sih enak banget dan worth every penny soalnya nggak mahal. Oke deh, saya juga jadi penasaran. Saya termasuk satu diantara banyak penggemar pancake juga, cuma kalau bikin pancake sendiri suka rada males soalnya sering kebanyakan dan orang rumah nggak ada yang doyan jajanan western-western gitu. Sayang kan kalau mubazir.

Continue Reading