Review: Bakso Bakar Pahlawan Trip Malang

img_8042

Sebenarnya sudah sering juga makan disini setiap ke Malang. Banyak yang lebih suka baso bakar dekat stasiun, menurut saya sih rasanya sama-sama enaknya kok. Hanya saja yang di Pahlawan Trip lebih ramah kendaraan roda 4 dan ada cafenya jadi pilihan minumannya lebih beragam. Ehm makanannya juga banyak sih, selain baso bakar ada macam-macam juga kok.

Tapi yang paling saya suka kalau mampir kemariĀ cukup bisa ditebak karena yang saya pesen juga itu-itu aja. Saya suka pesan baso bakar (kadang campur, kadang bola basonya doang) yang ekstra pedas dengan kuah terpisah, minumnya green tea latte gula/susunya dikit jadi nggak gitu manis soalnya saya nggak terlalu doyan manis. Iya cuma itu aja, dan biarpun cuma gitu aja tapi ngangenin haha! Memang sih jatohnya ngemil secara bola basonya cuma seberapa biarpun harga seporsinya jelas diatas rata-rata baso yang dijual di Malang.

Saya jadi ingat 4 tahun lalu pas ngajakin teman saya dari Bandung makan disini dan dia suka, ujung-ujungnya dia pengen balik lagi dan beli ini padahal sudah ada di Bandung. Dia juga nyesel nggak bungkus. Berarti yang suka sama baso ini nggak cuma saya aja ya kaan..

Pernah beberapa kali kesini pengin makan bakso ekstra pedas berikut sama minum green tea lattenya, soalnya ya buat saya paduan baso pedes sama green tea latte itu match banget aja gitu. Lah terus si green tea latte abis dong… šŸ™ Emang sih saya datengnya juga rada kemaleman soalnya habis jalan-jalan dulu ke tempat wisata hits Malang ceritanya.

Kamu pernah makan baso bakar ini juga? Kalau menurut kamu gimana?

Continue Reading

You may also like

Review: Holycow Malang, Apa Beda dengan Cabang Lain?

Holycow di Malang belum lama buka, baru sekitar beberapa minggu lalu di Camp Malang Jl Raya Dieng no. 32 dekat toko buku Togamas Malang. Si adek yang pengin makan steak disini, ketika kami tiba di Holycow baru ini nuansa baru-bukanya sangat kerasa sih. Masih banyak karangan bunga ucapan selamat baru buka. Interior Holycow cabang ini juga bagus, ala resto banget sih dengan kursi dan meja kayu dengan ruangan keseluruhan menimbulkan kesan eksklusif elegan. Duh lupa foto interiornya. Beda banget dengan Holycow daerah dekat Pasific Place dan Kelapa Gading yang sering saya kunjungi dengan desain interiornya yang lebih terasa warung banget.

Kami disambut dengan waiter dan mendapatkan tempat di sisi jendela, well memang pilihan kami sih. Restoran itu nggak ramai, cuma beberapa orang yang berada di dalamnya. Entah mungkin karena kami mampirnya siang atau memang karena populasi Malang lebih banyak mahasiswa jadi mainnya nggak ke resto-resto steak.

Semua menunya sama dengan Holycow di cabang manapun yang pernah saya kunjungi, hanya saja sih disini nggak ada free flow minuman seperti Holycow lain yang pernah saya kunjungi. Ehm cukup mengecewakan sebenarnya karena salah satu layanan yang saya sukai dari Holycow adalah beberapa menu minuman bisa free flow sampek puas. Terakhir saya makan di Holycow Surabaya Town Square juga free flow kok.

Si adek memesan wagyu sirloin 200 gram dan saya memesan big bites rib eye 400 gram tapi dengan harga yang lebih murah dari wagyu. Big bites saya ternyata banyak banget datengnya dan rasanya juga enak meskipun nggak habis tapi bisa minta bungkus sisanya untuk dimakan di rumah kok. Kenyang dan puaslah soal porsinya, kenyang seharian haha! Rasanya tetep aja enak, karena itu steak made by Holycow selalu jadi favorit saya.

wagyu sirloin, mashed potato, buncis dan jagung rebus, saus jamur

image

Continue Reading

You may also like

Review: Mie Baraccung Surabaya Barat, Another Mie dengan Level Pedas

Adik saya yang barusan masuk kuliah membawa pulang mie pangsit sebagai oleh-oleh dari acara jalan-jalannya. Saya kebagian satu kotak juga, mie yang katanya mie pedasĀ itu. Dia bilang membelinya tak jauh dari rumah. Satu kotak mie dihidangkan dengan topping ayam dan pangsit, sayuran, sosis dan somay goreng. Kata dia level 3 dan kalau saya suka saya bisa beli dengan gampang karena letaknya yang dekat, namanya Mie Baraccung.

Saya nyicip dikit dan merasa setuju bahwa mie ini layak coba, enak kok. Pada sendok kedua yang saya makan baru deh berasa pedesnya. Muka saya mulai memerah. Kata si adek, hitungan levelnya berdasarkan takaran sambal di sendok teh. Level 1 untuk satu sendok teh, level 2 untuk 2 sendok teh sambal dan seterusnya. Tapi ini ehm, seriusan pedas untuk ukuran yang dibilang sambelnya cuma 3 sendok teh. Muka saya memerah dan bibir saya mulai berasa tebel haha, beneran pedes bahkan bagi penggemar makanan pedas bagi saya.

Tapi kok nagihin banget ya pedesnya? Haha dasar! Beberapa minggu kemudian saya berhasil ‘memaksa’ suami nemenin makan di Mie Baraccung ini.

image
porsinya pas banget, ditemani es teh manis yumm!

Kami menemukan warungnya masuk gang, memang nggak oke sih kalau bawa mobil. Jadi kalau kesitu harus bawa motor. Jadi tempat makannya itu di teras rumah empunya tempat makan. Ada meja kursi yang berjajar di teras, dekat taman bahkan ruang tamu untuk tempat makan pelanggan. Sayangnya karena sudah keburu laper jadi nggak kepikiran fotoin suasananya. Next mungkin sih ya.

Continue Reading

You may also like

Bedanya Panties Pizza Surabaya dengan Malang

img_0384

Saya sedang pengin makan pizza dengan keju yang super banyak, tapi sedang dalam kondisi malas ngulenin adonan pizza. Salah satu alasannya adalah karena saya belum pernah bikin pizza sendiri, malas jika gagal di percobaan pertama sedangkan pengin banget makan pizza, saya ngajakin suami untuk makan Panties Pizza Surabaya. Panties Pizza ini lebih mirip pastel karena bentuk pizzanya tertutup dan memiliki isian di dalamnya. Saya pernah makan Panties Pizza saat sedang berada di Malang dan merasa kurang terkesan karena pizza keju yang saya pesan memiliki limpahan saus tomat di dalamnya sementara saya nggak suka saus tomat dan kurang suka mencampurkan saus apapun dalam pizza. Saya lebih sering memakannya begitu saja.

Harga panties pizza ini sangat terjangkau dibandingkan pizza pada umumnya, tengok saja daftar menu dan harganya berikut ini. Menjelang akhir bulan, mending jajannya yang murce aja sih. Pengin pizza di tanggal tua ya mending Panties Pizza ini aja.

Kata teman-teman saya, Panties Pizza di Surabaya selalu ramai oleh pengunjung. Tapi pas saya ke situ, selow dan sepi-sepi aja sih. Mungkin karena hari kerja ya. Setelah bayar, cuma nunggu sebentar kok terus pesenan pizza saya sampai deh. Saya pesan Say Cheese untuk saya dan Chick n Cheese (menu baru) untuk suami. Prakteknya sih kami bagi setengah-setengah biar sama-sama tahu rasanya haha!

Continue Reading

You may also like

The First Post

chef

Hai! Blog ini adalah bagian dari wishlist saya sejak beberapa bulan lalu. Keinginan untuk punya blog yang khusus menampung cerita-cerita saya soal makanan, baik pengalaman kuliner di berbagai tempat makan yang saya kunjungi ataupun hasil masakan sendiri. Tidak cuma review tapi juga ulasan dari sudut pandang saya berikut dengan personal touch-nya. Perasaan dan pikiran yang langsung saya alami serta muncul dibenak saat sedang menyantap makanan dan hal-hal lainnya.

Akhirnya terwujud, alhamdulillah. Meskipun ternyata saya baru saja bisa menemukan waktu untuk menulisi blog ini. Tapi tentu tidak harus memberondong blog ini dengan tulisan untuk mengungkapkan betapa senangnya saya dan betapa saya menyayangi blog ini tak kurang banyaknya dengan rasa sayang saya pada blog saya lainnya.

Ungkapan sayang yang sebaik-baik adalah perawatan yang konsisten, baik kondisi blog ataupun perawatan perasaan saya saat sedang mengisinya dengan tulisan.

Jika kamu mampir ke ruang makan virtual ini, mungkin kadang penuh dengan pikiran yang muncul di benak saya. Jangan heran.Ā Karena begitulah kita kendati sedang berada di ruang makan. Mungkin sambil bekerja, menonton televisi, mengobrol, surfing internet dan berpikir tentang apa saja. Sesuai diri kita yang sebenarnya dalam hari-hari berjalan, sedemikian manusiawinya. šŸ™‚

Continue Reading