Review: Cokelat Klasik – Minuman Cokelat Pinggir Jalan Rasa Cafe

Jadi anak kos lagi itu… rasanya bawaannya pengin ngemil melulu, apalagi di kota sedingin Malang. Hehe alasan banget ya… tapi beneran lho itu yang saya rasain waktu kemarin itu masih pelatihan brevet pajak bareng si adek di Malang. Hawanya kota Malang yang mendung terus-terusan dan ujan terus-terusan lumayan bikin pengin yang hangat-hangat dan pedas-pedas seharian. Tapi kalau siang bisa panas terik banget gitu jadi pengin yang dingin-dingin terus seger gitu *halah.

Ceritanya pas suatu hari malem-malem kok tumben sesiangan panas terik dan sore sampek malem nggak ujan sama sekali. Karena berasa gerah, saya ngomong ke si adek pengin minuman dingin yang enak dan kalau bisa sih nggak jauh-jauh dari kos.

“Cokelat klasik enak lho, mbak…” kata dia ngasih tahu ke saya.

“Itu yang depan minimarket depan juga ada outletnya itu kah?” tanya saya ke dia.

“Bukan… bukan yang itu beda lagi,”

“Lah kan sama namanya cokelat klasik,” saya nggak ngerti. Soalnya sering banget lewat depan minimarket nggak jauh dari kosan ada semacam outlet kecil buat jualan minuman gitu nah tulisannya cokelat klasik.

Continue Reading

You may also like

Batuk-batuk di Perantauan

Cuaca yang tidak mendukung membuat kita menjadi gampang terserang penyakit. Jadi ingat jaman jadul sebagai anak kuliah di perantauan, yang makan makanan nggak sehat dan sembarangan maka habis itu jadi mudah terserang penyakit. Karena cuaca yang ekstrem, kalau siang saya sering membeli es di pinggir jalan apapun itu yang penting bisa meredakan haus di kerongkongan. Minum es akan terasa aneh jika tidak ditemani sama gorengan.

Es dan gorengan sudah menjadi teman saya untuk menghabiskan waktu meredakan haus dan lapar jangka pendek. Namun kebiasaan tidak sehat saya tersebut, saya jadi gampang terkena batuk. Dan sekalinya terserang batuk, akan lama sekali sembuhnya. Sedari kecil saya sudah terbiasa ketika sekalinya terserang batuk maka akan menyiksa saya dari mulai mengambil jam tidur saya, mengganggu kegiatan sehari-hari, dan menghambat kinerja saya.
Suatu waktu teman nyeletuk, “eh ati-ati ntar ternyata kamu kena bronchitis loh,”
“Bronkitis?apaan tuh?”
“Itu loh bronkitis itu yang seperti di sinetron yang batuk-batuk terus drama di sapu tangan atau tissuenya ada darahnya. Masa gatau sih?”
“Eh iya?”
Kemudian saya mulai panic dan banyak membaca apa itu bronkitis dan apa penyebabnya. Berikut merupakan rangkuman mengenai bronkitis yang sempat saya baca.

Continue Reading

You may also like