Pemahaman Alergi yang Baik Dapat Mengurangi Dampak Negatif Alergi

36cd994f1f47d1bacfbd3e5ddb78831b
pic taken from pinterest

Ada nggak mantemanĀ yang nggak pernah kena alergi dari kecil sampek sekarang? Nggak pernah sama sekali gitu maksudnya. Keren amat ya nggak pernah kena alergi šŸ˜€

Nah terus buat manteman yang pernah kena alergi, kalau boleh tahu pemicunya apa? Apakah alergi makanan, suhu, bahan pakaian atau obat?

Seumur-umur saya beberapa kali pernah kena alergi dan yang namanya alergi itu beneran deh nggak nyaman banget. Ketika alergi datang dan kitanya udah dewasa aja nggak enaknya bisa bikin nangis, apalagi kalau anak-anak yang kena?

Waktu kecil saya punya alergi dengan produk ayam dan telur negeri, mungkin karena biasa hidup di desa makan ayam dari ayam kampung peliharaan sendiri, makan telur juga dari ayam sendiri. Kalau buat dimakan sendiri baik waktu tinggal bareng nenek atau tinggal bareng orang tua sama aja, mereka lebih suka semuanya berasal dari ayam sendiri. Hemat karena nggak usah beli dan udah jelas sehat soalnya diurusin sendiri juga. Jadi gitu pertama nyobain ayam dan telur negeri saya langsung gatel-gatel sekujur tubuh, saking sakit dan gatelnya sampek kaki luka gak keruan kena garuk.

Continue Reading

You may also like

Resep: Siomay Daging Homemade

img_7797

Lagi musim ujan gini bawaannya jadi pengin makan atau ngemil mulu, padahal kalau musim hujan jadinya jarang ada abang-abang jualan makanan lewat depan rumah. Atau kalau lewat eh sayanya yang malas keluar rumah hehe.

Ceritanya pengin ngemil yang enak, nggak berat, nggak bikin merasa bersalah-bersalah banget karena kalorinya gede tapi gampang dibikin. Lagi pengin siomay nih kayaknya. Buka kulkas kok masih ada daging sisa Idul Adha kemarin, jadi ya sudah itu aja yang dijadiin bahan.

Siomay daging anyone?

Continue Reading

You may also like

Review: Bebek Kuali Kota Batu, Menu Masakan Rumah yang Super Endeuss

review

Banyak banget foto dan bahan update untuk diunggah di blog ini tapi seringkali kena kendala malas edit foto kemudian malas nulis *pemalas*. Jadi ya begitulah, cuma masuk ke dalam folder dan perencanaan draft tapi belum di publish-publish.

Memang belakangan ini saya sedang sibuk di dunia offline, jadi makanya draft banyak banget tapi belum sempet untuk di tulis dan dipublish. Semoga bulan ini saya lebih produktif dalam menulis, terutama mengupdate blog ini. Hehe do’akan ya šŸ˜€

Yang sering ngelewatin jalan Batu-Malang pasti pernah ngelihat tempat makan ala depot Bebek Kwali di pinggir jalan. Memang warung ini bukan termasuk tempat hits Malang sih. Dulu pas saya masih magang jaman kuliah tuh warung yang menurut saya kekecilan kalau dibilang warung tapi juga belum pantes menyandang nama resto, ya depot lah. Jadi dulunya secara visual juga nggak menarik ya kayak depot biasa aja yang nggak rame. Tapi saya menyempatkan diri mampir kesini karena dengar dari pegawai kantor yang saya magangin kalau masakan disini enak, sopnya enak, bebek kualinya juga enak, pokoknya masakannya enak-enak.

Continue Reading

You may also like

Belanja Online sambil Buka Usaha dengan Kudo

Tadi sore saya menemani si adek untuk mengunjungi salah kedai makanan yang kebetulan terletak di salah satu pusat perbelanjaan di Kota Malang. Sudah beberapa lama dia menginginkan makanan tersebut yang katanya sedang ‘hits’ dikalangan teman adek saya. Setelah menemukan apa yang si adek mau, saya mengajak dia Ā mengunjungi food court pusat perbelanjaan tersebut.

Karena saya sedang puasa jadi sekalian aja mencari makanan buat dibungkus untuk buka di kos nanti, si adek yang makan di tempat. Setelah dia makan dan saya sudah membeliĀ beberapa cemilanĀ untuk berbuka, kamiĀ duduk di food court sebelum pulang karena di luar masih hujan. Beginilah kota Malang,Ā ketika musim hujan seperti ini usai pukulĀ 12.00 siang hampir pastiĀ turun hujan. Sewaktu kami duduk dan memandangi lalu lalang orang yang sedang berbelanja di mall tersebut, si adek nyeletuk bilang ā€œMbak ini moment langka buatku lho, sudah lama nggak kesiniā€.

Memang unik sihĀ bagaimana si adek bisa jarang-jarang mendatangi mall terlebih pada usianya yang sekarang. Dulunya, seumur si adek saya masih suka banget hunting barang diskon ke mall atau sekadar window shopping aja. Ya namanya juga perubahan zaman. Jadi adek saya ini setiap ada barang yang dia butuhin pasti deh jadi nongkronginĀ online shop makanya nggakĀ heran dia jarangĀ banget ke karena pak kurir lah yang selaluĀ datang untuk memberikan paket barang yang telah dia beli.

Berkebalikan dengan adek saya, saya memiliki teman yang anti sekali untuk bertransaksi secara online. Menurutnya bertransaksi secara online banyak nggakĀ menguntungkannya daripada puasnya. IniĀ karena dia pernah mengalami beberapa kejadianĀ tidak menguntungkan saat bertransaksi secara online seperti penjual yang tidak bertanggung jawab, barang yang tidak sesuai dengan gambar, dan beberapa hal lainnya. Oleh sebab itu menurutnya belanja secara langsung dengan mengunjungi toko fisiknya, mencoba barang secara langsung dan bertransaksi secara langsung lebih membuat dia merasa aman dan nyaman daripada bertransaksi secara online. Karena gaya belanja online tanpaĀ bertatap langsung dengan penjual, dan menerka-nerka barang yang akan dibeli cocok atau tidak atau sesuai size kita misalnya.

Hmm dipikir-pikir mungkin itu karena dia belum mengenal Kudo. Apa itu Kudo? Kudo adalah kependekan dari Kios Dagang Online. Lebih jelasnya kamu bisa baca-baca disini.

15228080_170617296739264_1613828683_n

Continue Reading

You may also like

Review: Warung Khas Batu – Nama ‘Warung’ dengan Suasana Cafe yang Homey

“Ke Batu kemana lagi ya?” pertanyaan ini sering banget ditanyakan suami ke saya kalau kami sedang main ke Batu. Saking nggak tahunya mau kemana lagi, soalnya semua tempat wisata di Batu yang ramah dilewati mobil kok rasa-rasanya sudah kami cobain semua. Pernah juga ke beberapa tempat makan yang katanya lagi hits tapi ujung-ujungnya kami merasa matok ekspektasi terlalu tinggi, soalnya tempat-tempat itu memang lokasinya strategis banget deket sama tempat wisata keren yang nggak pernah sepi pengunjung. Tapi ternyata rasanya biasa aja dan cenderung over price jauh banget, porsinya juga kecil.

Kayaknya sekitaran dua mingguan lalu saya baca review soal tempat ini dari teman Blogger yang sering review kuliner Malang. Jadi tertarik karena dia bilang kopinya enak dan porsinya juga gede. Jadi berangkatlah saya bertiga bareng adek-adek di kos. Ternyata Warung Khas Batu ini tempatnya di dalam The Batu Hotel & Villsa, masih satu bagian juga kok dengan The Batu Hotel & Villas. Lucunya tempat ini sering kami lewatin setiap kali riwa-riwi ke Batu tapi nggak pernah ngeh kalau disitu ada tempat makan yang bisa kami mampirin meskipun nggak nginep di hotelnya. Parkiran luas dan suasanya memang homey banget. Di bagian depan ada pasangan ibu-ibu dan bapak-bapak sedang duduk-duduk mengawasi pemandangan jalan raya dan Batu yang keren dari sudut itu.

img_1201
Kami duduk dan dihampiri mbak-mbaknya yang ramah untuk mengangsurkan menu. Masih bingung memilih-milih, saya memutuskan foto-foto bagian dalam Warung Khas Batu dulu. Nah berikut ini interiornya, homey banget ya kan.

img_1203

img_1205

img_1206

Setelah memutuskan apa yang ingin dipesanĀ Si mbak mencatat pesanan kami ke tab yang dia bawa-bawa, canggih! Menu di warung khas batu, meskipun namanya ‘warung’ tapi menurut saya menunya variatif. Rasa tradisional juga ada, rasa westernnya juga ada. Berikut ini saya foto-foto menu lengkapnya. Harganya juga murah lho. Soal rasa, nanti kita coba.

Continue Reading

You may also like

Review: Bakso Bakar Pahlawan Trip Malang

img_8042

Sebenarnya sudah sering juga makan disini setiap ke Malang. Banyak yang lebih suka baso bakar dekat stasiun, menurut saya sih rasanya sama-sama enaknya kok. Hanya saja yang di Pahlawan Trip lebih ramah kendaraan roda 4 dan ada cafenya jadi pilihan minumannya lebih beragam. Ehm makanannya juga banyak sih, selain baso bakar ada macam-macam juga kok.

Tapi yang paling saya suka kalau mampir kemariĀ cukup bisa ditebak karena yang saya pesen juga itu-itu aja. Saya suka pesan baso bakar (kadang campur, kadang bola basonya doang) yang ekstra pedas dengan kuah terpisah, minumnya green tea latte gula/susunya dikit jadi nggak gitu manis soalnya saya nggak terlalu doyan manis. Iya cuma itu aja, dan biarpun cuma gitu aja tapi ngangenin haha! Memang sih jatohnya ngemil secara bola basonya cuma seberapa biarpun harga seporsinya jelas diatas rata-rata baso yang dijual di Malang.

Saya jadi ingat 4 tahun lalu pas ngajakin teman saya dari Bandung makan disini dan dia suka, ujung-ujungnya dia pengen balik lagi dan beli ini padahal sudah ada di Bandung. Dia juga nyesel nggak bungkus. Berarti yang suka sama baso ini nggak cuma saya aja ya kaan..

Pernah beberapa kali kesini pengin makan bakso ekstra pedas berikut sama minum green tea lattenya, soalnya ya buat saya paduan baso pedes sama green tea latte itu match banget aja gitu. Lah terus si green tea latte abis dong… šŸ™ Emang sih saya datengnya juga rada kemaleman soalnya habis jalan-jalan dulu ke tempat wisata hits Malang ceritanya.

Kamu pernah makan baso bakar ini juga? Kalau menurut kamu gimana?

Continue Reading

You may also like

Review: Holycow Malang, Apa Beda dengan Cabang Lain?

Holycow di Malang belum lama buka, baru sekitar beberapa minggu lalu di Camp Malang Jl Raya Dieng no. 32 dekat toko buku Togamas Malang. Si adek yang pengin makan steak disini, ketika kami tiba di Holycow baru ini nuansa baru-bukanya sangat kerasa sih. Masih banyak karangan bunga ucapan selamat baru buka. Interior Holycow cabang ini juga bagus, ala resto banget sih dengan kursi dan meja kayu dengan ruangan keseluruhan menimbulkan kesan eksklusif elegan. Duh lupa foto interiornya. Beda banget dengan Holycow daerah dekat Pasific Place dan Kelapa Gading yang sering saya kunjungi dengan desain interiornya yang lebih terasa warung banget.

Kami disambut dengan waiter dan mendapatkan tempat di sisi jendela, well memang pilihan kami sih. Restoran itu nggak ramai, cuma beberapa orang yang berada di dalamnya. Entah mungkin karena kami mampirnya siang atau memang karena populasi Malang lebih banyak mahasiswa jadi mainnya nggak ke resto-resto steak.

Semua menunya sama dengan Holycow di cabang manapun yang pernah saya kunjungi, hanya saja sih disini nggak ada free flow minuman seperti Holycow lain yang pernah saya kunjungi. Ehm cukup mengecewakan sebenarnya karena salah satu layanan yang saya sukai dari Holycow adalah beberapa menu minuman bisa free flow sampek puas. Terakhir saya makan di Holycow Surabaya Town Square juga free flow kok.

Si adek memesan wagyu sirloin 200 gram dan saya memesan big bites rib eye 400 gram tapi dengan harga yang lebih murah dari wagyu. Big bites saya ternyata banyak banget datengnya dan rasanya juga enak meskipun nggak habis tapi bisa minta bungkus sisanya untuk dimakan di rumah kok. Kenyang dan puaslah soal porsinya, kenyang seharian haha! Rasanya tetep aja enak, karena itu steak made by Holycow selalu jadi favorit saya.

wagyu sirloin, mashed potato, buncis dan jagung rebus, saus jamur

image

Continue Reading

You may also like

Review: Mie Baraccung Surabaya Barat, Another Mie dengan Level Pedas

Adik saya yang barusan masuk kuliah membawa pulang mie pangsit sebagai oleh-oleh dari acara jalan-jalannya. Saya kebagian satu kotak juga, mie yang katanya mie pedasĀ itu. Dia bilang membelinya tak jauh dari rumah. Satu kotak mie dihidangkan dengan topping ayam dan pangsit, sayuran, sosis dan somay goreng. Kata dia level 3 dan kalau saya suka saya bisa beli dengan gampang karena letaknya yang dekat, namanya Mie Baraccung.

Saya nyicip dikit dan merasa setuju bahwa mie ini layak coba, enak kok. Pada sendok kedua yang saya makan baru deh berasa pedesnya. Muka saya mulai memerah. Kata si adek, hitungan levelnya berdasarkan takaran sambal di sendok teh. Level 1 untuk satu sendok teh, level 2 untuk 2 sendok teh sambal dan seterusnya. Tapi ini ehm, seriusan pedas untuk ukuran yang dibilang sambelnya cuma 3 sendok teh. Muka saya memerah dan bibir saya mulai berasa tebel haha, beneran pedes bahkan bagi penggemar makanan pedas bagi saya.

Tapi kok nagihin banget ya pedesnya? Haha dasar! Beberapa minggu kemudian saya berhasil ‘memaksa’ suami nemenin makan di Mie Baraccung ini.

image
porsinya pas banget, ditemani es teh manis yumm!

Kami menemukan warungnya masuk gang, memang nggak oke sih kalau bawa mobil. Jadi kalau kesitu harus bawa motor. Jadi tempat makannya itu di teras rumah empunya tempat makan. Ada meja kursi yang berjajar di teras, dekat taman bahkan ruang tamu untuk tempat makan pelanggan. Sayangnya karena sudah keburu laper jadi nggak kepikiran fotoin suasananya. Next mungkin sih ya.

Continue Reading

You may also like

Bedanya Panties Pizza Surabaya dengan Malang

img_0384

Saya sedang pengin makan pizza dengan keju yang super banyak, tapi sedang dalam kondisi malas ngulenin adonan pizza. Salah satu alasannya adalah karena saya belum pernah bikin pizza sendiri, malas jika gagal di percobaan pertama sedangkan pengin banget makan pizza, saya ngajakin suami untuk makan Panties Pizza Surabaya. Panties Pizza ini lebih mirip pastel karena bentuk pizzanya tertutup dan memiliki isian di dalamnya. Saya pernah makan Panties Pizza saat sedang berada di Malang dan merasa kurang terkesan karena pizza keju yang saya pesan memiliki limpahan saus tomat di dalamnya sementara saya nggak suka saus tomat dan kurang suka mencampurkan saus apapun dalam pizza. Saya lebih sering memakannya begitu saja.

Harga panties pizza ini sangat terjangkau dibandingkan pizza pada umumnya, tengok saja daftar menu dan harganya berikut ini. Menjelang akhir bulan, mending jajannya yang murce aja sih. Pengin pizza di tanggal tua ya mending Panties Pizza ini aja.

Kata teman-teman saya, Panties Pizza di Surabaya selalu ramai oleh pengunjung. Tapi pas saya ke situ, selow dan sepi-sepi aja sih. Mungkin karena hari kerja ya. Setelah bayar, cuma nunggu sebentar kok terus pesenan pizza saya sampai deh. Saya pesan Say Cheese untuk saya dan Chick n Cheese (menu baru) untuk suami. Prakteknya sih kami bagi setengah-setengah biar sama-sama tahu rasanya haha!

Continue Reading

You may also like

The First Post

chef

Hai! Blog ini adalah bagian dari wishlist saya sejak beberapa bulan lalu. Keinginan untuk punya blog yang khusus menampung cerita-cerita saya soal makanan, baik pengalaman kuliner di berbagai tempat makan yang saya kunjungi ataupun hasil masakan sendiri. Tidak cuma review tapi juga ulasan dari sudut pandang saya berikut dengan personal touch-nya. Perasaan dan pikiran yang langsung saya alami serta muncul dibenak saat sedang menyantap makanan dan hal-hal lainnya.

Akhirnya terwujud, alhamdulillah. Meskipun ternyata saya baru saja bisa menemukan waktu untuk menulisi blog ini. Tapi tentu tidak harus memberondong blog ini dengan tulisan untuk mengungkapkan betapa senangnya saya dan betapa saya menyayangi blog ini tak kurang banyaknya dengan rasa sayang saya pada blog saya lainnya.

Ungkapan sayang yang sebaik-baik adalah perawatan yang konsisten, baik kondisi blog ataupun perawatan perasaan saya saat sedang mengisinya dengan tulisan.

Jika kamu mampir ke ruang makan virtual ini, mungkin kadang penuh dengan pikiran yang muncul di benak saya. Jangan heran.Ā Karena begitulah kita kendati sedang berada di ruang makan. Mungkin sambil bekerja, menonton televisi, mengobrol, surfing internet dan berpikir tentang apa saja. Sesuai diri kita yang sebenarnya dalam hari-hari berjalan, sedemikian manusiawinya. šŸ™‚

Continue Reading