5 Tips Booking Hotel Mudah Ala Backpacker

 

trvll

Tahun 2017 nih! Apa yang kamu sudah lakukan di awal tahun ini?

Banyak dari teman-teman saya yang sudah duluan menandai tanggal-tanggal libur nan strategis buat cuti dari kantornya masing-masing. Kamu begitu juga?

Traveling memang menyenangkan sih, melihat hal-hal baru dan pengalaman yang pastinya beda tapi yang bikin kepikiran sesudahnya itu malah biaya, bill yang tertagih dan seterusnya. Ya seneng sih pas traveling dengan fasilitas yang full dan keren, kelarnya itu yang males.

Makanya kebanyakan temen-temen saya yang demen traveling lebih suka bepergian ala backpacker biar lebih hemat dan nggak bikin nangisin uang tabungan yang kekuras habis pas pulangnya.

Backpacking atau wisata beransel (membawa ransel) memang udah jadi tren bagi para pecinta traveling, nggak terkecuali juga di Indonesia. Wisata jenis ini diklaim dapat menghemat biaya perjalanan dan akomodasi, tanpa mengurangi kepuasan berjalan-jalan di tempat favorit dan merasakan kearifan lokal seerti budaya dan makanan khasnya.

Baca juga Review: Bebek Kuali Kota Batu

Ciri khas dari para backpaker ini biasaya adalah ransel besar yang selalu berada di punggung. Ransel cenderung besar untuk memuat barang-barang yang mereka perlukan dan tentu mudah dibawa dibandingkan dengan koper. Ransel mendukung mobilitas mereka yang tinggi, yang ke mana-mana sering ditempuh hanya dengan berjalan kaki.

Inilah makanya, jadi ada istilah liburan ala koper dan ala ransel kayak yang ada di acara salah satu stasiun tv swasta itu loh. Liburan ala koper identik dengan suasana berkelas, bergaya dan mahal. Sedangkan liburan ala ransel identik dengan liburan ekonomis yang terjangkau dan minim fasilitas mewah.

Continue Reading

Review: Brownies Mommy Enjel

img_06932

Teman saya Dwi, teman yang saya kenal dari awal tes kerja hingga sama-sama tinggal di ibu kota baru saja berjualan brownies berbagai rasa. Karena masih sedang rajin banget bikin kue jadi saya belum beli brownies itu hingga bulan depannya ketika sedang dalam fase males banget baking, sekalian ngelarisin usahanya teman maka saya memutuskan untuk memesan brownies original dari dia karena mikir kalau untuk toppingnya yang macam-macam seperti nutella, cadburry dan semacamnya saya punya lengkap juga kok di rumah. Dwi atau Duwik – panggilannya – bilang kalau untuk yang original juga sudah ada topping kejunya kok.

“Oh oke,” kata saya dan bersiap nungguin brownies sampai di tangan. Mungkin browniesnya nyoklat banget sih tapi ya gitu sama kayak brownies pada umumnya, pikir saya.

img_0695

Begitu akhirnya si brownies sampai di tangan, ternyata saya salah karena itulah awalnya saya jadi addict sama brownies itu dan selalu pesan setiap kali saya sedang malas baking.

Continue Reading

Pemahaman Alergi yang Baik Dapat Mengurangi Dampak Negatif Alergi

36cd994f1f47d1bacfbd3e5ddb78831b
pic taken from pinterest

Ada nggak manteman yang nggak pernah kena alergi dari kecil sampek sekarang? Nggak pernah sama sekali gitu maksudnya. Keren amat ya nggak pernah kena alergi 😀

Nah terus buat manteman yang pernah kena alergi, kalau boleh tahu pemicunya apa? Apakah alergi makanan, suhu, bahan pakaian atau obat?

Seumur-umur saya beberapa kali pernah kena alergi dan yang namanya alergi itu beneran deh nggak nyaman banget. Ketika alergi datang dan kitanya udah dewasa aja nggak enaknya bisa bikin nangis, apalagi kalau anak-anak yang kena?

Waktu kecil saya punya alergi dengan produk ayam dan telur negeri, mungkin karena biasa hidup di desa makan ayam dari ayam kampung peliharaan sendiri, makan telur juga dari ayam sendiri. Kalau buat dimakan sendiri baik waktu tinggal bareng nenek atau tinggal bareng orang tua sama aja, mereka lebih suka semuanya berasal dari ayam sendiri. Hemat karena nggak usah beli dan udah jelas sehat soalnya diurusin sendiri juga. Jadi gitu pertama nyobain ayam dan telur negeri saya langsung gatel-gatel sekujur tubuh, saking sakit dan gatelnya sampek kaki luka gak keruan kena garuk.

Continue Reading

Resep: Siomay Daging Homemade

img_7797

Lagi musim ujan gini bawaannya jadi pengin makan atau ngemil mulu, padahal kalau musim hujan jadinya jarang ada abang-abang jualan makanan lewat depan rumah. Atau kalau lewat eh sayanya yang malas keluar rumah hehe.

Ceritanya pengin ngemil yang enak, nggak berat, nggak bikin merasa bersalah-bersalah banget karena kalorinya gede tapi gampang dibikin. Lagi pengin siomay nih kayaknya. Buka kulkas kok masih ada daging sisa Idul Adha kemarin, jadi ya sudah itu aja yang dijadiin bahan.

Siomay daging anyone?

Continue Reading

Review: Bebek Kuali Kota Batu

review

Banyak banget foto dan bahan update untuk diunggah di blog ini tapi seringkali kena kendala malas edit foto kemudian malas nulis *pemalas*. Jadi ya begitulah, cuma masuk ke dalam folder dan perencanaan draft tapi belum di publish-publish.

Memang belakangan ini saya sedang sibuk di dunia offline, jadi makanya draft banyak banget tapi belum sempet untuk di tulis dan dipublish. Semoga bulan ini saya lebih produktif dalam menulis, terutama mengupdate blog ini. Hehe do’akan ya 😀

Yang sering ngelewatin jalan Batu-Malang pasti pernah ngelihat tempat makan ala depot Bebek Kwali di pinggir jalan. Memang warung ini bukan termasuk tempat hits Malang sih. Dulu pas saya masih magang jaman kuliah tuh warung yang menurut saya kekecilan kalau dibilang warung tapi juga belum pantes menyandang nama resto, ya depot lah. Jadi dulunya secara visual juga nggak menarik ya kayak depot biasa aja yang nggak rame. Tapi saya menyempatkan diri mampir kesini karena dengar dari pegawai kantor yang saya magangin kalau masakan disini enak, sopnya enak, bebek kualinya juga enak, pokoknya masakannya enak-enak.

Continue Reading

Belanja Online sambil Buka Usaha dengan Kudo

Tadi sore saya menemani si adek untuk mengunjungi salah kedai makanan yang kebetulan terletak di salah satu pusat perbelanjaan di Kota Malang. Sudah beberapa lama dia menginginkan makanan tersebut yang katanya sedang ‘hits’ dikalangan teman adek saya. Setelah menemukan apa yang si adek mau, saya mengajak dia  mengunjungi food court pusat perbelanjaan tersebut.

Karena saya sedang puasa jadi sekalian aja mencari makanan buat dibungkus untuk buka di kos nanti, si adek yang makan di tempat. Setelah dia makan dan saya sudah membeli beberapa cemilan untuk berbuka, kami duduk di food court sebelum pulang karena di luar masih hujan. Beginilah kota Malang, ketika musim hujan seperti ini usai pukul 12.00 siang hampir pasti turun hujan. Sewaktu kami duduk dan memandangi lalu lalang orang yang sedang berbelanja di mall tersebut, si adek nyeletuk bilang “Mbak ini moment langka buatku lho, sudah lama nggak kesini”.

Memang unik sih bagaimana si adek bisa jarang-jarang mendatangi mall terlebih pada usianya yang sekarang. Dulunya, seumur si adek saya masih suka banget hunting barang diskon ke mall atau sekadar window shopping aja. Ya namanya juga perubahan zaman. Jadi adek saya ini setiap ada barang yang dia butuhin pasti deh jadi nongkrongin online shop makanya nggak heran dia jarang banget ke karena pak kurir lah yang selalu datang untuk memberikan paket barang yang telah dia beli.

Berkebalikan dengan adek saya, saya memiliki teman yang anti sekali untuk bertransaksi secara online. Menurutnya bertransaksi secara online banyak nggak menguntungkannya daripada puasnya. Ini karena dia pernah mengalami beberapa kejadian tidak menguntungkan saat bertransaksi secara online seperti penjual yang tidak bertanggung jawab, barang yang tidak sesuai dengan gambar, dan beberapa hal lainnya. Oleh sebab itu menurutnya belanja secara langsung dengan mengunjungi toko fisiknya, mencoba barang secara langsung dan bertransaksi secara langsung lebih membuat dia merasa aman dan nyaman daripada bertransaksi secara online. Karena gaya belanja online tanpa bertatap langsung dengan penjual, dan menerka-nerka barang yang akan dibeli cocok atau tidak atau sesuai size kita misalnya.

Hmm dipikir-pikir mungkin itu karena dia belum mengenal Kudo. Apa itu Kudo? Kudo adalah kependekan dari Kios Dagang Online. Lebih jelasnya kamu bisa baca-baca disini.

15228080_170617296739264_1613828683_n

Kudo merupakan wadah bagi vendor-vendor untuk menarik kepercayaan masyarakat dalam bertransaksi secara online. Karena bentuknya memang kios online, yang jelas kita semua bisa dagang kecil-kecilan melalui Kudo. Kudo bagus banget untuk memulai usaha kecil, karena deposit minimalnya juga sangat terjangkau, cuma 10 ribu rupiah aja! Murce kan, dibanding sama biaya internet kita per bulan aja masih jauh lebih murah kok.

Jadi dengan Kudo kita nggak cuma bisa belanja online tapi juga bisa jadi agen, dengan menjadi agen Kudo kita bisa memasarkan semua produk yang ada di Kudo nggak terkecuali pulsa pun bisa kita pasarkan dan mendapat komisi langsung dari produk yang berhasil kita jual. Merasa nggak berbakat jualan dan bukan orang yang persuasif? Kita bisa mulai dengan yang kecil-kecil dulu dong kayak misalnya pulsa 5,000 perak. Siapa sih yang nggak butuh pulsa semua juga butuh kan? Justru dengan pulsa senilai 5,000 perak kalau banyak yang beli maka komisi kamu juga lebih banyak dong.

Untuk menjaga keamanan dan kenyamanan belanja pelanggan melalui Kudo dan para agennya, Kudo benar-benar memperhatikan aspek keamanan belanja dengan baik. Makanya kalau mau jadi agen Kudo kita harus melampirkan soft copy KTP yang akan diverifikasi terlebih dahulu oleh Kudo. Jadi aman banget kan soalnya kita jadi tahu bahwa agen Kudo nggak abal-abal dan bukan tanpa sortiran. Saya pernah daftar pakai KTP lama sebelum pindah kependudukan yang tentu sudah nggak berlaku dan gagal mendapat verifikasi. Jadi bisa diandalkan lho ini trust-nya Kudo.

Untuk membantu masyarakat yang nggak mau ribet dalam bertransaksi, Kudo mampu menjawab segala kekhawatiran antara pembeli dan penjual. Ketika akan bertransaksi, pembeli cukup melakukan transaksi ke agen terdekat dan pembayaran dilakukan secara cash kemudian tinggal mengunggu barang yang kita beli datang. Apabila barang tersebut tidak sesuai dengan yang kita inginkan, kita bisa complain lho. Jualan online terlaris Kudo salah satunya adalah voucher-voucher. Saya sih paling tertarik dengan voucher-voucher android dan itunes ini. Pasti banyak yang butuhin dengan lifestyle nggak bisa seharipun tanpa ponsel ala masyarakat jaman sekarang. Tuh komisinya, lumayan yah?

kudo

Menjadi agen Kudo praktis banget, modal mengunduh aplikasinya di ponsel kita aja langsung bisa jalan dan menjadi kerjaan sambilan. Tapi kalau kamu bukan pengguna android tetep bisa kok akses Kudo dari browser langsung, sama nyamannya.

kudo2

Yuk rame-rame jadi agen Kudo! Belanja sambil punya usaha sampingan dengan Kudo, kenapa enggak?

Continue Reading

Warung Khas Batu – Nama ‘Warung’, Suasana Cafe yang Homey

“Ke Batu kemana lagi ya?” pertanyaan ini sering banget ditanyakan suami ke saya kalau kami sedang main ke Batu. Saking nggak tahunya mau kemana lagi, soalnya semua tempat wisata di Batu yang ramah dilewati mobil kok rasa-rasanya sudah kami cobain semua. Pernah juga ke beberapa tempat makan yang katanya lagi hits tapi ujung-ujungnya kami merasa matok ekspektasi terlalu tinggi, soalnya tempat-tempat itu memang lokasinya strategis banget deket sama tempat wisata keren yang nggak pernah sepi pengunjung. Tapi ternyata rasanya biasa aja dan cenderung over price jauh banget, porsinya juga kecil.

Kayaknya sekitaran dua mingguan lalu saya baca review soal tempat ini dari teman Blogger yang sering review kuliner Malang. Jadi tertarik karena dia bilang kopinya enak dan porsinya juga gede. Jadi berangkatlah saya bertiga bareng adek-adek di kos. Ternyata Warung Khas Batu ini tempatnya di dalam The Batu Hotel & Villsa, masih satu bagian juga kok dengan The Batu Hotel & Villas. Lucunya tempat ini sering kami lewatin setiap kali riwa-riwi ke Batu tapi nggak pernah ngeh kalau disitu ada tempat makan yang bisa kami mampirin meskipun nggak nginep di hotelnya. Parkiran luas dan suasanya memang homey banget. Di bagian depan ada pasangan ibu-ibu dan bapak-bapak sedang duduk-duduk mengawasi pemandangan jalan raya dan Batu yang keren dari sudut itu.

img_1201
Kami duduk dan dihampiri mbak-mbaknya yang ramah untuk mengangsurkan menu. Masih bingung memilih-milih, saya memutuskan foto-foto bagian dalam Warung Khas Batu dulu. Nah berikut ini interiornya, homey banget ya kan.

img_1203

img_1205

img_1206

Setelah memutuskan apa yang ingin dipesan Si mbak mencatat pesanan kami ke tab yang dia bawa-bawa, canggih! Menu di warung khas batu, meskipun namanya ‘warung’ tapi menurut saya menunya variatif. Rasa tradisional juga ada, rasa westernnya juga ada. Berikut ini saya foto-foto menu lengkapnya. Harganya juga murah lho. Soal rasa, nanti kita coba.

img_1210

img_1212

img_1213

img_1214

img_1215

Berikut ini hidangan yang di atas meja kami. Penasaran banget sama pecel rawon yang menjadi andalan dari Warung Khas Batu, unik gitu secara selama ini saya pernah makan dalam kondisi terpisah rawon ya rawon pecel ya pecel. Pas dateng, oh ternyata kayak gini bentuknya.

img_1216

Jadi pecel dengan sambel kacang dan tempe goreng dengan kuah rawon terpisah. Saya nyoba menyiramkan kuah rawon diatas piring, kirain bakal aneh tapi ternyata enggak. Rasanya edible kok. Porsinya gedeee, buat yang pengen nyobain kesini mending jangan laper mata ya daripada nggak habis. Pesen secukupnya aja, kalau pengen nyoba-nyobain menu ya rame-rame dateng bareng temen dan masing-masing pesen menu yang beda.

img_1219

Ini nasi goreng Jawa dan sate kelinci. Untuk penampilan nasi goreng jawa kurang ‘berwarna’ kalau menurut saya, kurang banyak terasi dan cabenya sih jadi lebih mirip nasi goreng versi chinese food secara penampilan, karena ya warna masih putih. Eh begitu makan rasanya enak kok, beneran dan porsinya gedeee banget. Nasi goreng ini sukses bikin kami kekenyangan.

Terus terang ini pertama kalinya saya makan sate kelinci. Iya setelah selama ini, baru pas kesini saya makan sate kelinci, finally! Saya mencelupkan sate ke dalam bumbu kacang dan mulai makan. Lho enak, teksturnya lebih lembut dari sapi dan lebih liat dari ayam. Bumbu kacangnya manis gurih. Dekat tempat kami makan ada kelinci-kelinci putih lucu yang dikandangkan, saya sempat bertanya pada Pak Asep manager marketing warung khas Batu apa kelinci di kandang itu yang disembelih untuk masak sate? Ternyata enggak, Pak Asep bilang jenisnya beda dengan yang dimasak. Sempet nggak tega kelinci selucu itu dijadiin makanan *tapi kok tetep dimakan juga sih nin?* 😀

 

img_1222

Ini indomie kekinian dengan rasa indomie khas batu. Jadi manteman, indomie kekinian adalah olahan indomie yang dimodifikasi dengan aneka bumbu dan lauk. Yang saya coba ini indomie khas batu dengan seafood, daging, sayuran dan telor setengah matang. Enak! Layak dicoba.

img_1228

img_1229

img_1232

Kami juga nyobain enam jenis minuman disini, 3 diminum pas makan dan 3 yang kami pesan untuk menunggu hujan yang nggak kunjung reda di Batu. Yang dingin dihidangkan dalam gelas berkaki dan rasanya cukup edible. Yang juara banget justru minuman panasnya, dari hot chocolate yang coklat banget dan nggak manis sesuai sama lidah saya.

Coffee lattenya juga enak banget jadi manis kopinya pas dan saya ngerasain ada rasa rempah dan kayu manis di dalam kopi, coffee mochanya juga enak perpaduan antara kopi dan coklatnya pas ada foam yang ditabur meises. Semua kopi kami pesan level mediocre alias medium. Lain kali kalau kesini saya akan memesan yang level maniac aja kayaknya sih biar lebih nendang rasa kopinya 🙂 Kalau pesen black coffee aja mungkin nendang banget kopinya tapi saya lebih suka kalau ada campuran, jadi makanya lain kali pesen maniac aja.

Warung khas Batu tempatnya nyaman, toiletnya juga bersih, dapet banget suasana homeynya. Kalau ditanya apa saya bakalan balik lagi kesini? Definitely yes.

Menyenangkan menikmati kopi saat menunggu hujan reda disini, pandangan kita bebas ke luar area warung karena jendela kacanya yang gede-gede jadi pandangan jadi lapang. Pasti asik kalau ngopi dan makan snack disini sambil ngobrol berlama-lama karena suasananya yang enak. Warung khas Batu buka mulai jam sarapan pagi 06.30 sampai malem jam 21.30. Mulai kalau pengin sarapan pagi-pagi, makan siang sampek nongkrong sore ke Malang, Warung khas Batu bisa kita mampirin manteman. Pelayanannya juga ramah 😀

Sudah nyobain makan di Warung Khas Batu juga? Kalau menurut manteman gimana?

Continue Reading

Review: Bakso Bakar Pahlawan Trip Malang

img_8042

Sebenarnya sudah sering juga makan disini setiap ke Malang. Banyak yang lebih suka baso bakar dekat stasiun, menurut saya sih rasanya sama-sama enaknya kok. Hanya saja yang di Pahlawan Trip lebih ramah kendaraan roda 4 dan ada cafenya jadi pilihan minumannya lebih beragam. Ehm makanannya juga banyak sih, selain baso bakar ada macam-macam juga kok.

Tapi yang paling saya suka kalau mampir kemari cukup bisa ditebak karena yang saya pesen juga itu-itu aja. Saya suka pesan baso bakar (kadang campur, kadang bola basonya doang) yang ekstra pedas dengan kuah terpisah, minumnya green tea latte gula/susunya dikit jadi nggak gitu manis soalnya saya nggak terlalu doyan manis. Iya cuma itu aja, dan biarpun cuma gitu aja tapi ngangenin haha! Memang sih jatohnya ngemil secara bola basonya cuma seberapa biarpun harga seporsinya jelas diatas rata-rata baso yang dijual di Malang.

Saya jadi ingat 4 tahun lalu pas ngajakin teman saya dari Bandung makan disini dan dia suka, ujung-ujungnya dia pengen balik lagi dan beli ini padahal sudah ada di Bandung. Dia juga nyesel nggak bungkus. Berarti yang suka sama baso ini nggak cuma saya aja ya kaan..

Pernah beberapa kali kesini pengin makan bakso ekstra pedas berikut sama minum green tea lattenya, soalnya ya buat saya paduan baso pedes sama green tea latte itu match banget aja gitu. Lah terus si green tea latte abis dong… 🙁 Emang sih saya datengnya juga rada kemaleman soalnya habis jalan-jalan dulu ke tempat wisata hits Malang ceritanya.

Kamu pernah makan baso bakar ini juga? Kalau menurut kamu gimana?

Continue Reading

Review: Holycow Malang

Holycow di Malang belum lama buka, baru sekitar beberapa minggu lalu di Camp Malang Jl Raya Dieng no. 32 dekat toko buku Togamas Malang. Si adek yang pengin makan steak disini, ketika kami tiba di Holycow baru ini nuansa baru-bukanya sangat kerasa sih. Masih banyak karangan bunga ucapan selamat baru buka. Interior Holycow cabang ini juga bagus, ala resto banget sih dengan kursi dan meja kayu dengan ruangan keseluruhan menimbulkan kesan eksklusif elegan. Duh lupa foto interiornya. Beda banget dengan Holycow daerah dekat Pasific Place dan Kelapa Gading yang sering saya kunjungi dengan desain interiornya yang lebih terasa warung banget.

Kami disambut dengan waiter dan mendapatkan tempat di sisi jendela, well memang pilihan kami sih. Restoran itu nggak ramai, cuma beberapa orang yang berada di dalamnya. Entah mungkin karena kami mampirnya siang atau memang karena populasi Malang lebih banyak mahasiswa jadi mainnya nggak ke resto-resto steak.

Semua menunya sama dengan Holycow di cabang manapun yang pernah saya kunjungi, hanya saja sih disini nggak ada free flow minuman seperti Holycow lain yang pernah saya kunjungi. Ehm cukup mengecewakan sebenarnya karena salah satu layanan yang saya sukai dari Holycow adalah beberapa menu minuman bisa free flow sampek puas. Terakhir saya makan di Holycow Surabaya Town Square juga free flow kok.

Si adek memesan wagyu sirloin 200 gram dan saya memesan big bites rib eye 400 gram tapi dengan harga yang lebih murah dari wagyu. Big bites saya ternyata banyak banget datengnya dan rasanya juga enak meskipun nggak habis tapi bisa minta bungkus sisanya untuk dimakan di rumah kok. Kenyang dan puaslah soal porsinya, kenyang seharian haha! Rasanya tetep aja enak, karena itu steak made by Holycow selalu jadi favorit saya.

wagyu sirloin, mashed potato, buncis dan jagung rebus, saus jamur

image

holyco

 

Big bites 400 gram, french fries, bayam dan jagung rebus, saus lada hitam dan jamur

image

image

Harga dua porsi dengan minum air mineral dan lemon tea sekitar 300,000 an IDR.

Pelayanannya juga baik dan menyenangkan, memanjakan customer banget. Buat penggemar steak Holycow di Malang, nggak perlu jauh-jauh ke luar kota lagi untuk menikmati steak ini. Di Malang juga bisa dong.

Sudah nyobain steak di Holycow juga? Share yuk…

Continue Reading

Review: Mie Baraccung Surabaya Barat

Adik saya yang barusan masuk kuliah membawa pulang mie pangsit sebagai oleh-oleh dari acara jalan-jalannya. Saya kebagian satu kotak juga, mie yang katanya mie pedas itu. Dia bilang membelinya tak jauh dari rumah. Satu kotak mie dihidangkan dengan topping ayam dan pangsit, sayuran, sosis dan somay goreng. Kata dia level 3 dan kalau saya suka saya bisa beli dengan gampang karena letaknya yang dekat, namanya Mie Baraccung.

Saya nyicip dikit dan merasa setuju bahwa mie ini layak coba, enak kok. Pada sendok kedua yang saya makan baru deh berasa pedesnya. Muka saya mulai memerah. Kata si adek, hitungan levelnya berdasarkan takaran sambal di sendok teh. Level 1 untuk satu sendok teh, level 2 untuk 2 sendok teh sambal dan seterusnya. Tapi ini ehm, seriusan pedas untuk ukuran yang dibilang sambelnya cuma 3 sendok teh. Muka saya memerah dan bibir saya mulai berasa tebel haha, beneran pedes bahkan bagi penggemar makanan pedas bagi saya.

Tapi kok nagihin banget ya pedesnya? Haha dasar! Beberapa minggu kemudian saya berhasil ‘memaksa’ suami nemenin makan di Mie Baraccung ini.

image
porsinya pas banget, ditemani es teh manis yumm!

Kami menemukan warungnya masuk gang, memang nggak oke sih kalau bawa mobil. Jadi kalau kesitu harus bawa motor. Jadi tempat makannya itu di teras rumah empunya tempat makan. Ada meja kursi yang berjajar di teras, dekat taman bahkan ruang tamu untuk tempat makan pelanggan. Sayangnya karena sudah keburu laper jadi nggak kepikiran fotoin suasanyanya. Next mungkin sih ya.

Kami memesan mie, saya level 3 dan suami level 1 beserta minumannya es teh manis kemudian membayar semua sebelum duduk di meja untuk berdua. Kebanyakan yang nongkrong dan makan disitu itu anak-anak muda sih. Abegeh gitu, ya kayak saya lah #eaaak

Cuma nunggu sebentar hingga mie disajikan dalam keadaan hangat nan menggoda dengan sembulan biji cabenya. Selamat makan!

image

Disajikan hangat gitu enak banget deh. Pedes enaknya lebih berasa, oh ya biar kata pedes ini pedes enak sih, bukan cuma pedes doang. Maksud saya ada kan makanan yang menang pedes doang tapi enggak enak?

Suami mulai mengeluh kepedasan padahal cuma level 1, saya jadi kesian dan menyarankan kepada dia kalau lain kali kami kesini mending no level atau level 0 aja yang buat dia. Kesian juga kalau jadinya sakit perut gara-gara nurutin makan makanan pedes bareng istrinya.

Tempatnya bersih dan cukup rame oleh remaja nongkrong. Mungkin karena harganya murah ya selain rasanya yang enak. Seporsi mie baraccung original yaitu dengan penampakan seperti yang saya pesan dan pajang fotonya di postingan ini hanya seharga 10,000 rupiah aja. Porsinya pas banget kenyangnya, erm khususnya buat cewek ya. Kalau buat para mas dan abang kayaknya masih kurang sih.

image

Lega juga pesen ini bareng es teh manis, langsung menetralisir pedesnya di mulut.

Nggak kapok pedesnya, Nin?

Enggak, justru pengin mampir lagi dan makan di tempat haha 😀

Continue Reading